
Hahai...!!!!
Akhirnya aku menemukan blog ku yang tercinta....ck,ck,ck setelah berminggu-minggu pencarian...tak peduli hujan linggis, letusan gunung berapi, lapisan ozon yang bocor, hujan asam, badai caterina dan kawan-kawannya...akhirnya aku dengan susah di payahkan berhasil bersua kembali dengan si cantik dan menawanku "becce lawo"...suit.suit.suit
Oh ya..saking lamanya masa pencarian ku akan "becce_lawo" ternyata dunia masih berputar, matahari tetap terbit di timur dan tenggelam di barat , api masih panas, es masih dingin dan mengunyah makanan masih pakai gigi (woeeee!!!! mang nguyah pakai hidung toh????) dan ternyata ada begitu banyak kejadian yang tidak sempat bung becce abadikan dalam lembaran "becce_lawo"....(plok..plok..plok...salut!!!)
Dan untuk "KEMBALI EKSIS"....(cieee bahasana') maka tanpa ditunda-tunda lagi bung becce akan kembali bercengkrama dengan si cantik dan menawan "becce_lawo" tentunya dengan topik yang "EKSIS" juga yakni "SETAN 14 cm" atau "CIGARET" alias "ROKOK".
Belakangan ini marak tentang fatwa "HARAM" untuk "ROKOK" karena banyaknya efek negatif yang disebakan oleh rokok ini. Sampai ulama, pakar kesehatan, artis papan cuci sampai artis tiang jemuran, masyarakat kelas atas sampai tukang parkir memberikan pendapatnya masing-masing tentang rokok.
Tapi ternyata ada yang terlupakan oleh media selama ini untuk di mintai pendapatnya tentang rokok ini...and no one else and no longer except me...
"Bung Becce"...ha..ha..ha (tertawa siluman mode ON)
Jadi...Okelah kalau Begitu saya akan bermurah hati memberikan pendapat saya tanpa tagihan sepeserpun. Jadi sebagaimana "KUTIPAN ARTIKEL" (Gubrakkkkk!!! tiada malu di hatinya..he,he kutipan dibanggain) dari halaman Dompet Dhuafa tentang rokok maka saya akan menampilkannya di hadapan saudara-saudara sekalian. Berikut artikelnya....
=================================
Dia seorang pengamen. Dengan gitarnya, dia melompat dari satu bus ke bus lain yang penuh sesak di Jakarta. Selesai menyanyikan satu dua lagu, Karel, begitu lelaki itu disapa, mengedarkan kantong uang pada para penumpang. Sehari, dia bisa mengantongi 20 ribu rupiah dari pekerjaannya ini. Setengahnya dia gunakan untuk membeli rokok.
Karel mengaku merokok setengah bungkus, kira-kira Rp 5000 sehari. Tapi dia merasa masih mending dibanding temen-temennya yang lain yang menghabiskan sebungkus rokok bahkan lebih sehari. Karel mengaku penghasilannya sebagai pengamen tidaklah banyak. Kadang-kadang dalam sehari dia beruntung bisa ketemu nasi, kadang-kadang tidak. Kalau dapat uang, uangnya pertama-tama dibelikan rokok, lalu untuk bayar sewa kontrakan, setelah itu baru untuk makan.
Karel merokok sudah sejak usia 18 tahun. Lelaki 33 tahun ini mengaku awalnya hanya ingin tahu dan coba-coba merokok bersama teman-temannya sesama pengamen. Tapi dari coba-coba itu dia jadi tak bisa melepaskan diri dari rokok bahkan sampai ketagihan seperti sekarang. Dia mengaku, kalau tak merokok rasanya tubuhnya lemas.
Lain Karel lain pula cerita Ridho (17). Kuli bangunan lepas di Jakarta Selatan ini mengaku mendapat upah rata-rata Rp 15 ribu sehari sebagai penganyak pasir. Dari uang itu, setengahnya dia belanjakan untuk membeli rokok. Ridho mengatakan merokok adalah segalanya bagi remaja laki-laki seperti dirinya. Merokok bisa menghilangkan stres bahkan lebih dari pacar buatnya. Rokok itu segalanya baginya, karena rokok bisa menghilangkan rasa pusing dan jenuhnya menghadapi kerasnya hidup di Jakarta.
Terima tidak terima, Indonesia adalah surga bagi para perokok. Satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak menandatangani kesepakatan World Health Organizations atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghentikan kebiasaan merokok adalah Indonesia. Alasannya? Industri tembakau lokal menyediakan ratusan ribu lapangan kerja dan pajak dari rokok menyumbang 10-30 persen pendapatan pemerintah.
Ada fakta menarik tentang perilaku merokok masyarakat kelas bawah kita. Berdasarkan survei Lembaga Demografi FE UI, satu dari dua rumah tangga miskin mengalokasikan 20 persen pendapatannya untuk merokok. Hasil penelitian lain menyebutkan dalam sebulan orang miskin Indonesia membelanjakan uang untuk rokok Rp 117 ribu. Angka ini lebih besar dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang cuma sebesar Rp 100 ribu per bulan itu. Agak serupa dengan pengakuan Karel, pengeluaran untuk rokok menduduki prioritas kedua setelah membeli beras. Diduga, BLT yang diterima separuhnya malah digunakan untuk membeli rokok, bukan untuk biaya kesehatan, pendidikan, dan lain-lainnya.
Survei juga menunjukkan, pengeluaran orang miskin untuk rokok 17 kali dibandingkan membeli daging, 15 kali dibandingkan pengeluaran kesehatan, dan 9 kali dibanding pengeluaran pendidikan. Itulah mungkin sebabnya orang miskin susah membiayai pendidikan dan tidak bisa menyantap makanan bergizi gara-gara membeli rokok.
Tak hanya menggerogoti paru-paru, rokok juga ternyata membuat orang miskin di Indonesia semakin miskin. Bayangkan, penduduk miskin Indonesia rela menahan lapar demi rokok. Penelitian dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyebutkan, 40 persen perokok di Indonesia berasal dari kelompok berpenghasilan kecil.
Fakta-fakta mengerikan ini tidak terlepas dari sangat murahnya harga rokok di Indonesia dibanding negara-negara lain di dunia, sehingga bahkan kelas masyarakat miskin pun bisa membelinya. Hanya dengan 10 ribu rupiah saja, orang Indonesia bisa mendapatkan sebungkus rokok, bahkan bisa membelinya secara batangan dengan harga yang lebih murah.
Selain menggerogoti dompet orang miskin, rokok juga penyebab kematian nomor tiga di Indonesia. Yayasan Kanker Indonesia mencatat, saat ini kanker paru-paru menduduki urutan ketiga setelah kanker serviks dan kanker payudara. Padahal dulu kanker paru-paru menduduki posisi kelima. Diketahui pula sembilan dari 10 dari pengidap kanker paru-paru adalah perokok, dan enam orang di antaranya adalah kalangan tak berpunya. Jadi lengkap sudah segala keterpurukan itu. Sudahlah miskin, tak sehat, mengidap kanker pula.
Perlu usaha keras dari berbagai pihak untuk mengentaskan persoalan ini. Pemerintah harus membuat aturan ketat tentang rokok. Membebani industri rokok dengan pajak tinggi, tetap bukan solusi utama. Melarang orang merokok di tempat umum, ternyata juga belum ampuh untuk menurunkan jumlah perokok. Diperlukan regulasi yang ketat agar perokok baru tidak bertambah. Selain itu, tentu saja diperlukan kekuatan cinta antara sesama—terutama dari anggota keluarga—untuk saling mengingatkan bahwa rokok tidak hanya membahayakan kesehatan, tapi juga mempertebal kemiskinan
==================================
Jadi kawan apa yang membuat anda berpikir lagi...cepatlah tukar kembali rokok yang telah engkau beli dengan duit yang kamu pakai membeli rokok. Jangan tunda lagi!!!!
WARNING!!!!
Penukaran rokok dengan duit di lakukan di Toko/ Gardu/ Kios anda membeli rokok...Jangan sekali-kali di tempat yang berbeda...maka resiko yang anda terima di luar tanggungan kami!!!!
Waspadalah!!!...waspadalah!!!
Akhirnya aku menemukan blog ku yang tercinta....ck,ck,ck setelah berminggu-minggu pencarian...tak peduli hujan linggis, letusan gunung berapi, lapisan ozon yang bocor, hujan asam, badai caterina dan kawan-kawannya...akhirnya aku dengan susah di payahkan berhasil bersua kembali dengan si cantik dan menawanku "becce lawo"...suit.suit.suit
Oh ya..saking lamanya masa pencarian ku akan "becce_lawo" ternyata dunia masih berputar, matahari tetap terbit di timur dan tenggelam di barat , api masih panas, es masih dingin dan mengunyah makanan masih pakai gigi (woeeee!!!! mang nguyah pakai hidung toh????) dan ternyata ada begitu banyak kejadian yang tidak sempat bung becce abadikan dalam lembaran "becce_lawo"....(plok..plok..plok...salut!!!)
Dan untuk "KEMBALI EKSIS"....(cieee bahasana') maka tanpa ditunda-tunda lagi bung becce akan kembali bercengkrama dengan si cantik dan menawan "becce_lawo" tentunya dengan topik yang "EKSIS" juga yakni "SETAN 14 cm" atau "CIGARET" alias "ROKOK".
Belakangan ini marak tentang fatwa "HARAM" untuk "ROKOK" karena banyaknya efek negatif yang disebakan oleh rokok ini. Sampai ulama, pakar kesehatan, artis papan cuci sampai artis tiang jemuran, masyarakat kelas atas sampai tukang parkir memberikan pendapatnya masing-masing tentang rokok.
Tapi ternyata ada yang terlupakan oleh media selama ini untuk di mintai pendapatnya tentang rokok ini...and no one else and no longer except me...
"Bung Becce"...ha..ha..ha (tertawa siluman mode ON)
Jadi...Okelah kalau Begitu saya akan bermurah hati memberikan pendapat saya tanpa tagihan sepeserpun. Jadi sebagaimana "KUTIPAN ARTIKEL" (Gubrakkkkk!!! tiada malu di hatinya..he,he kutipan dibanggain) dari halaman Dompet Dhuafa tentang rokok maka saya akan menampilkannya di hadapan saudara-saudara sekalian. Berikut artikelnya....
=================================
Dia seorang pengamen. Dengan gitarnya, dia melompat dari satu bus ke bus lain yang penuh sesak di Jakarta. Selesai menyanyikan satu dua lagu, Karel, begitu lelaki itu disapa, mengedarkan kantong uang pada para penumpang. Sehari, dia bisa mengantongi 20 ribu rupiah dari pekerjaannya ini. Setengahnya dia gunakan untuk membeli rokok.
Karel mengaku merokok setengah bungkus, kira-kira Rp 5000 sehari. Tapi dia merasa masih mending dibanding temen-temennya yang lain yang menghabiskan sebungkus rokok bahkan lebih sehari. Karel mengaku penghasilannya sebagai pengamen tidaklah banyak. Kadang-kadang dalam sehari dia beruntung bisa ketemu nasi, kadang-kadang tidak. Kalau dapat uang, uangnya pertama-tama dibelikan rokok, lalu untuk bayar sewa kontrakan, setelah itu baru untuk makan.
Karel merokok sudah sejak usia 18 tahun. Lelaki 33 tahun ini mengaku awalnya hanya ingin tahu dan coba-coba merokok bersama teman-temannya sesama pengamen. Tapi dari coba-coba itu dia jadi tak bisa melepaskan diri dari rokok bahkan sampai ketagihan seperti sekarang. Dia mengaku, kalau tak merokok rasanya tubuhnya lemas.
Lain Karel lain pula cerita Ridho (17). Kuli bangunan lepas di Jakarta Selatan ini mengaku mendapat upah rata-rata Rp 15 ribu sehari sebagai penganyak pasir. Dari uang itu, setengahnya dia belanjakan untuk membeli rokok. Ridho mengatakan merokok adalah segalanya bagi remaja laki-laki seperti dirinya. Merokok bisa menghilangkan stres bahkan lebih dari pacar buatnya. Rokok itu segalanya baginya, karena rokok bisa menghilangkan rasa pusing dan jenuhnya menghadapi kerasnya hidup di Jakarta.
Terima tidak terima, Indonesia adalah surga bagi para perokok. Satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak menandatangani kesepakatan World Health Organizations atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghentikan kebiasaan merokok adalah Indonesia. Alasannya? Industri tembakau lokal menyediakan ratusan ribu lapangan kerja dan pajak dari rokok menyumbang 10-30 persen pendapatan pemerintah.
Ada fakta menarik tentang perilaku merokok masyarakat kelas bawah kita. Berdasarkan survei Lembaga Demografi FE UI, satu dari dua rumah tangga miskin mengalokasikan 20 persen pendapatannya untuk merokok. Hasil penelitian lain menyebutkan dalam sebulan orang miskin Indonesia membelanjakan uang untuk rokok Rp 117 ribu. Angka ini lebih besar dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang cuma sebesar Rp 100 ribu per bulan itu. Agak serupa dengan pengakuan Karel, pengeluaran untuk rokok menduduki prioritas kedua setelah membeli beras. Diduga, BLT yang diterima separuhnya malah digunakan untuk membeli rokok, bukan untuk biaya kesehatan, pendidikan, dan lain-lainnya.
Survei juga menunjukkan, pengeluaran orang miskin untuk rokok 17 kali dibandingkan membeli daging, 15 kali dibandingkan pengeluaran kesehatan, dan 9 kali dibanding pengeluaran pendidikan. Itulah mungkin sebabnya orang miskin susah membiayai pendidikan dan tidak bisa menyantap makanan bergizi gara-gara membeli rokok.
Tak hanya menggerogoti paru-paru, rokok juga ternyata membuat orang miskin di Indonesia semakin miskin. Bayangkan, penduduk miskin Indonesia rela menahan lapar demi rokok. Penelitian dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyebutkan, 40 persen perokok di Indonesia berasal dari kelompok berpenghasilan kecil.
Fakta-fakta mengerikan ini tidak terlepas dari sangat murahnya harga rokok di Indonesia dibanding negara-negara lain di dunia, sehingga bahkan kelas masyarakat miskin pun bisa membelinya. Hanya dengan 10 ribu rupiah saja, orang Indonesia bisa mendapatkan sebungkus rokok, bahkan bisa membelinya secara batangan dengan harga yang lebih murah.
Selain menggerogoti dompet orang miskin, rokok juga penyebab kematian nomor tiga di Indonesia. Yayasan Kanker Indonesia mencatat, saat ini kanker paru-paru menduduki urutan ketiga setelah kanker serviks dan kanker payudara. Padahal dulu kanker paru-paru menduduki posisi kelima. Diketahui pula sembilan dari 10 dari pengidap kanker paru-paru adalah perokok, dan enam orang di antaranya adalah kalangan tak berpunya. Jadi lengkap sudah segala keterpurukan itu. Sudahlah miskin, tak sehat, mengidap kanker pula.
Perlu usaha keras dari berbagai pihak untuk mengentaskan persoalan ini. Pemerintah harus membuat aturan ketat tentang rokok. Membebani industri rokok dengan pajak tinggi, tetap bukan solusi utama. Melarang orang merokok di tempat umum, ternyata juga belum ampuh untuk menurunkan jumlah perokok. Diperlukan regulasi yang ketat agar perokok baru tidak bertambah. Selain itu, tentu saja diperlukan kekuatan cinta antara sesama—terutama dari anggota keluarga—untuk saling mengingatkan bahwa rokok tidak hanya membahayakan kesehatan, tapi juga mempertebal kemiskinan
==================================
Jadi kawan apa yang membuat anda berpikir lagi...cepatlah tukar kembali rokok yang telah engkau beli dengan duit yang kamu pakai membeli rokok. Jangan tunda lagi!!!!
WARNING!!!!
Penukaran rokok dengan duit di lakukan di Toko/ Gardu/ Kios anda membeli rokok...Jangan sekali-kali di tempat yang berbeda...maka resiko yang anda terima di luar tanggungan kami!!!!
Waspadalah!!!...waspadalah!!!
Astaga! Blog ini masih hidup rupanya...
BalasHapus@mbak eka : ha..ha..ha...makasih lo mbak atas kunjungan perdananya...
BalasHapusternyata masih ada denyutnya...
BalasHapussemangat!!
(^__^)
wah baru keliatan mas bro!!!
BalasHapusrokok lagi rokok lagi!!! ahhh mbuh ah
usul mas bro!!
kenapa kita dukung fatwa haram untuk korupsi aja ya hehehe
waaahhhhhhh bang becce dateng dateng membawa berita jitu hahah, selamat datang kembali bang becce :D, Rokok, kayaknya penting banget ya bagi kaum adam, ampe jadiin sebuah kebutuhan buangetttttttt heheh,
BalasHapusmana oleh olehnya bang becce, masak abis pergi kosongan hahaha, kecut :-P
BalasHapusakhirnya setelah sekian lama menghilang dari dunia persilatan.., bung becce muncul kembali.., dengan membawa sebuah nasihat yang sangat baik..,
BalasHapuskurang ngerti juga knp orang masih suka merokok padahal selain bisa menyebabkan kanker.., rokok juga bisa meledak.., :D
selamat malam ndi gimana kabarnya sudah diwisuda nggak
BalasHapuswah aku perokok nih , harus berusaha dikurangi nih
BalasHapusudah lama ga update nih bung becce
BalasHapusHai.., selamat datang kembali.
BalasHapusAku sudah pindah alamat lho sekarang ...
Bicara tentang rokok ya..?
BalasHapusMasih pro kontra tuh ^_^
Apa kabar bro? Kemana aja? Jagad blog tanah air sunyi nih sepeninggal abang becce lawo hehhehe..
BalasHapusuntungnya saya ndak merokok ji, tapi sebagai perokok pasif, posisi saya malah lebih rentan terkena imbas negatif rokok, iya tak??
BalasHapusbahas tentang perokok pasif juga domz.....
Senam ku kurasa.... ndak merokot ji ka saya....
BalasHapusMuncul lagi nih sang penghibur hati didunia blogsphare, selamat datang kembali ya...
BalasHapussetujuuuuuu setujuuuu
BalasHapusayo hentikan kebiasaan merokok.
welcomeback bung becce!
welcome back cee
BalasHapussayah bisa memaklumi kenapa orang2 bisa jadi kecanduan sm rokok, kerna ayahku merokok. Salut ples kasian liad usahanya untuk berenti merokok waktu dy mulai sakit2an, kerna memang candu itu kuat sekali dalam dirinya, betul2 sulit untuk lepas.
BalasHapustapi tetap kategori untuk calon suamiku nanti kalo bisa nda merokok, hhuhu... ^^
rokok juga bikin uhuk2 orang disekitarnya. btw, selamat eksis kembali bung...
BalasHapusBecce kemana aja.... buseng deh..... heheheheh... stop ngerokok... nanti kena kanker bahaya sekali/... hohohohoho
BalasHapusGuys,
BalasHapusSupport The Earth Hour, by turning off all the electricity for an hour on Saturday, March 27'th 2010, 8.30 pm.
Dukung The Earth Hour, dengan mematikan semua lampu dan listrik selama 1 jam, pada hari Sabtu, 27 Maret 2010 mulai dari jam 20.30 malam.
This is the least we can do....
Love the Earth...
Ninneta
Lah, saya baru mulai eksis ngerokok nih, wuakakakak...
BalasHapusinfonya lengkap banget neh.. salut bung..
BalasHapusakhirnya bisa bersua lagi ma bung becce.. hehe..
apa kabarnya bung? semoga bae2 aja ya.. :)
SELAMAT BERGABUNG lagi ka..
BalasHapuslama iah ga muncul ke permukaan
piet kira udaa bosen POSTING
hehehe
oia ada AWARD buad bung becce disini
http://laskar-anesachipiet.blogspot.com/2010/03/penjelasan-mizz-black.html
merokok sama dengan membakar uang.. mangkanya susah beranjak dari kemiskinan *maaf*.. semoga lekas sadar bagi yg meroko (tak terkecuali)
BalasHapusSetelah lama Vacum yah..??
BalasHapustapi ini masih postingan maret,, yang april mana sob..??
masih di unek-unek yah..?
hehehe
salam kenal ^_^...
BalasHapusisi blognya renyah kaya keripik, ringan dibaca dan menyegarkan serasa air es yang mengaliri tenggorokan yang kering ini, ihihihih....
AV,無碼,a片免費看,自拍貼圖,伊莉,微風論壇,成人聊天室,成人電影,成人文學,成人貼圖區,成人網站,一葉情貼圖片區,色情漫畫,言情小說,情色論壇,臺灣情色網,色情影片,色情,成人影城,080視訊聊天室,a片,A漫,h漫,麗的色遊戲,同志色教館,AV女優,SEX,咆哮小老鼠,85cc免費影片,正妹牆,ut聊天室,豆豆聊天室,聊天室,情色小說,aio,成人,微風成人,做愛,成人貼圖,18成人,嘟嘟成人網,aio交友愛情館,情色文學,色情小說,色情網站,情色,A片下載,嘟嘟情人色網,成人影片,成人圖片,成人文章,成人小說,成人漫畫,視訊聊天室,a片,線上遊戲,色情遊戲,日本a片,性愛
BalasHapuslaaah...udah kembali kok menghilang lg
BalasHapuskenapa harus rokok??
BalasHapusberkunjuuuung.....lama nggak ke sini......
BalasHapuseksisnya jangan pake dukun ya becce.....hehehe
BalasHapussebentar, kumatikan rokokku dulu!
BalasHapusblogwalking malam2 salam kenal ya semua
BalasHapusmantap nih blog..tukaran link yuk
BalasHapushahai... lucu aja seandainya kalimat di bawah judul blog ini dinyanyiin... jd inget masa kecil :D
BalasHapussalam kenal buat semua..
sitewalking.. :)
BalasHapus