Senuah renungan inspiratif yang semoga bermanfaat bagi kita semua kawan.Bahwa pintu pahala menuju surga terbuka lebar.
Besarnya pahala bukan dari besarnya penilaian mata manusia akan kebaikan itu
Tetapi Allah SWT yang menentukan dan menilainya.
Ini kisah nyata yang bung becce baca dari sebuah buletin terbitan Dompet Dhuafa Republika
dari tabloid dwi bulanan "Masakini". Cerita ini dikisahkan oleh seorang penjaga sebuah masjid yang sering di tempati seorang nenek tua nenek untuk melaksanakan sholat duhur semasa hidupnya.
Dikisahkan, di sebuah daerah di Madura hidup seorang nenek sebatang kara. Tanpa sanak saudara, berjuang sendiri melawan kerasnya kehidupan. Dia hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari usaha jualan bunga kenanga dan kamboja di salah satu pasar di daerah Madura. Setiap hari berjualan dari pagi hingga menjelang dhuhur. Dan apabila waktu dhuhur menjelang, si nenek lekas mengemas barang dagangannya dan bersegera menuju mesjid yang berada dekat pasar.
Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan nenek ini selepas menunaikan sholat dhuhur dan menjadi perhatian jamaah yang sholat di mesjid itu. Yakni selepas menunaikan sholat sunat bakda dhuhur, dzikir secukupnya, si nenek dengan penuh semangat segera menuju halaman mesjid untuk memunguti satu persatu daun yang berserakan di halaman mesjid. Tanpa canggung dia berjongkok, memunguti daun tersebut satu persatu tanpa menggunakan sapu untuk mengumpulkan daun tersebut terlebih dahulu.
Tentu saja agak lama dia membersihkan halaman dengan cara itu. Padahal panas matahari sungguh menyengat untuk berpanas-panasan di siang seperti itu. Jelas tampak keringat membasahi punggung bajunya ataupun berjatuhan di dahinya yang keriput.
Banyak jamaah yang kemudian jatuh iba kepadanya, hingga suatu hari takmir mesjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, dia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ingin melakukan pekerjaan rutinnya, dia terkejut. Tidak ada satupun lagi daun terserak dihalaman masjid. Dia terlihat sedih, kemudian masuk kembali ke masjid dengan mata berlinang air mata dan mempertanyakan mengapa daun tersebut dibersihkan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
"jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek tua itu "berikan kesempatan kepadaku untuk memungutinya setiap hari".
Akhirnya karena kasihan, nenek itu dibiarkan memunguti daun tersebut satu persatu seperti biasa seusai sholat dhuhur. Tidak terlihat gurat kelelahan di wajahnya, yang ada hanyalah wajah penuh kegembiraan.
Hingga suatu hari, sorang kiai terhormat berkesempatan singgah sholat di masjid tersebut dan diminta pengurus masjid untuk menanyakan perihal perbuatan wanita tua itu. Wanita tua itupun setuju dengan dua syarat: pertama, hanya pak kiai yang boleh mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh di sebarkan ketika dia masih hidup. Dan pak kiai serta jamaah pun menyanggupinya.
Dan singkat cerita, setelah beberapa tahun kemudian si nenek tidak pernah lagi datang di masjid tersebut menunaikan sholat ataupun memunguti daun yang berserakan di masjid. Tersiar kabar bahwa beberapa minggu yang lalu beliau telah berpulang ke penciptaNya, Allah SWT.
Hal ini kemudian di benarkan oleh kiai yang dulu di tempati nenek tersebut bercerita ketika kiai tersebut berkunjung ke masjid tersebut.
"Sekarang beliau telah berpulang ke penciptaNya dan amanah saya adalah menyampaikan rahasia beliau untuk selalu memunguti daun yang berserakan di halaman masjid satu persatu." pak kiai memulai penuturannya.
"Saya ini perempuan tua yang bodoh pak kiai. Yang menyia-nyiakan waktu muda saya untuk belajar agama. Saya ini miskin pak kiai dan tidak mungkin mendermakan harta saya yang sehari-hari hanya cukup untuk saya makan".
"Saya tahu memunguti daun di halaman mesjid itu amalah kecil pak kiai, mungkin juga amalan tersebut tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada Hari Akhirat tanpa syafaat kanjeng Nabi Muhammad SAW pak kiai. Oleh karenanya setiap kali saya memunguti selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah dengan sepenuh pengharapan syafaatnya pak kiai. Kelak jika saya mati dan diadili di akhirat, saya ingin Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW menjemput saya pak kiai. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membaca salawat kepadanya."
Besarnya pahala bukan dari besarnya penilaian mata manusia akan kebaikan itu
Tetapi Allah SWT yang menentukan dan menilainya.
Ini kisah nyata yang bung becce baca dari sebuah buletin terbitan Dompet Dhuafa Republika
dari tabloid dwi bulanan "Masakini". Cerita ini dikisahkan oleh seorang penjaga sebuah masjid yang sering di tempati seorang nenek tua nenek untuk melaksanakan sholat duhur semasa hidupnya.
Dikisahkan, di sebuah daerah di Madura hidup seorang nenek sebatang kara. Tanpa sanak saudara, berjuang sendiri melawan kerasnya kehidupan. Dia hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari usaha jualan bunga kenanga dan kamboja di salah satu pasar di daerah Madura. Setiap hari berjualan dari pagi hingga menjelang dhuhur. Dan apabila waktu dhuhur menjelang, si nenek lekas mengemas barang dagangannya dan bersegera menuju mesjid yang berada dekat pasar.
Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan nenek ini selepas menunaikan sholat dhuhur dan menjadi perhatian jamaah yang sholat di mesjid itu. Yakni selepas menunaikan sholat sunat bakda dhuhur, dzikir secukupnya, si nenek dengan penuh semangat segera menuju halaman mesjid untuk memunguti satu persatu daun yang berserakan di halaman mesjid. Tanpa canggung dia berjongkok, memunguti daun tersebut satu persatu tanpa menggunakan sapu untuk mengumpulkan daun tersebut terlebih dahulu.
Tentu saja agak lama dia membersihkan halaman dengan cara itu. Padahal panas matahari sungguh menyengat untuk berpanas-panasan di siang seperti itu. Jelas tampak keringat membasahi punggung bajunya ataupun berjatuhan di dahinya yang keriput.
Banyak jamaah yang kemudian jatuh iba kepadanya, hingga suatu hari takmir mesjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, dia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ingin melakukan pekerjaan rutinnya, dia terkejut. Tidak ada satupun lagi daun terserak dihalaman masjid. Dia terlihat sedih, kemudian masuk kembali ke masjid dengan mata berlinang air mata dan mempertanyakan mengapa daun tersebut dibersihkan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
"jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek tua itu "berikan kesempatan kepadaku untuk memungutinya setiap hari".
Akhirnya karena kasihan, nenek itu dibiarkan memunguti daun tersebut satu persatu seperti biasa seusai sholat dhuhur. Tidak terlihat gurat kelelahan di wajahnya, yang ada hanyalah wajah penuh kegembiraan.
Hingga suatu hari, sorang kiai terhormat berkesempatan singgah sholat di masjid tersebut dan diminta pengurus masjid untuk menanyakan perihal perbuatan wanita tua itu. Wanita tua itupun setuju dengan dua syarat: pertama, hanya pak kiai yang boleh mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh di sebarkan ketika dia masih hidup. Dan pak kiai serta jamaah pun menyanggupinya.
Dan singkat cerita, setelah beberapa tahun kemudian si nenek tidak pernah lagi datang di masjid tersebut menunaikan sholat ataupun memunguti daun yang berserakan di masjid. Tersiar kabar bahwa beberapa minggu yang lalu beliau telah berpulang ke penciptaNya, Allah SWT.
Hal ini kemudian di benarkan oleh kiai yang dulu di tempati nenek tersebut bercerita ketika kiai tersebut berkunjung ke masjid tersebut.
"Sekarang beliau telah berpulang ke penciptaNya dan amanah saya adalah menyampaikan rahasia beliau untuk selalu memunguti daun yang berserakan di halaman masjid satu persatu." pak kiai memulai penuturannya.
"Saya ini perempuan tua yang bodoh pak kiai. Yang menyia-nyiakan waktu muda saya untuk belajar agama. Saya ini miskin pak kiai dan tidak mungkin mendermakan harta saya yang sehari-hari hanya cukup untuk saya makan".
"Saya tahu memunguti daun di halaman mesjid itu amalah kecil pak kiai, mungkin juga amalan tersebut tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada Hari Akhirat tanpa syafaat kanjeng Nabi Muhammad SAW pak kiai. Oleh karenanya setiap kali saya memunguti selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah dengan sepenuh pengharapan syafaatnya pak kiai. Kelak jika saya mati dan diadili di akhirat, saya ingin Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW menjemput saya pak kiai. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membaca salawat kepadanya."





